Pages

free web site traffic and promotion

Rabu, 09 Februari 2011

Budidaya Pare / Paria

A. Latar Belakang
Kebutuhan pangan bagi warga DKI Jakarta akan terus meningkat sejalan dengan
bertambah besarnya penduduk DKI Jakarta serta meningkatnya tingkat pendapatan
warganya. Kebutuhan pangan tidak saja dipenuhi dari produksi padi dan palawija, tetapi
juga sayuran. Tingkat ketergantungan DKI Jakarta akan produksi sayuran dari wilayah lain
sebanyak 87,25% (tahun 1993), dan hal ini akan terus meningkat dengan semakin
kecilnya lahan yang dipakai untuk memproduksi sayuran di DKI Jakarta.
Meskipun bagi tanaman sayuran lainnya menurun tingkat pemakaian lahan, tetapi
untuk tanaman pare (paria) meningkat sebesar 19,5% (tahun 1993) dan tingkat
produktifitasnya pun meningkat sebesar 6,90%. Dari segi pemasaran sayuran tanaman
pare masih mempunyai peluang pasar yang cukup besar. Berdasarkan hasil wawancara
dengan beberapa pedagang di salah satu pasar di Jakarta Timur, untuk satu pasar saja
dalam satu hari memerlukan kurang lebih 5 ton/hari. Belum lagi usahatani ini dapat
menghasilkan uang dengan interval waktu mingguan (panen 1 minggu sekali). Hal ini yang
mendorong usahatani pare masih mempunyai peluang bisnis untuk dikembangkan lebih
lanjut.
Tanaman pare (paria) adalah tanaman herba berumur satu tahun atau lebih yang
tumbuh menjalar dan merambat. Tanaman yang merupakan sayuran buah ini mempunyai
daun yang berbentuk menjari dengan bunga yang berwarna kuning. Permukaan buahnya
berbintil-bintil dan rasa buahnya pahit. Tanaman pare ini sangat mudah dibudidayakan
dan tumbuhnya tidak tergantung pada musim.
B. Manfaat Tanaman Pare
Rasa buah pahit ini yang menimbulkan beberapa manfaat yang terdapat dalam buah pare
ini. Manfaat buah pare bagi kesehatan manusia adalah:
a. Dapat merangsang nafsu makan
b. Dapat menyembuhkan penyakit kuning
c. Memperlancar pencernaan
d. dan sebagai obat malaria
Selain buah pare, ternyata daun pare juga mempunyai manfaat yang tidak kalah
dengan buahnya. Manfaat tersebut antara lain:
a. Dapat menyembuhkan mencret pada bayi
b. Membersihkan darah bagi wanita yang baru melahirkan
c. Dapat menurunkan panas
d. Dapat mengeluarkan cacing kremi
e. Dapat menyembuhkan batuk
Dari beberapa analisa bahan gizi yang ada dalam pare didapat kandungan gizi
seperti yang tercantum dalam tabel ini.
Kandungan gizi tiap 100 gram daun dan buah pare
Zat gizi Buah Pare Daun Pare
Air 91,2 gram 80 gram
Kalori 29 gram 44 gram
Protein 1,1 gram 5,6 gram
Lemak 1,1 gram 0,4 gram
Karbohidrat 0,5 gram 12 gram
Kalsium 45 mg 264 mg
Zat Besi 1,4 mg 5 gram
Fosfor 64 mg 666 mg
Vitamin A 18 SI 5,1 mg
Vitamin B 0,08 mg 0,05 mg
Vitamin C 52 mg 170 mg
Folasin - 88 mg
C. Jenis-jenis Pare
Beberapa jenis pare yang ada dan sering dibudidayakan antara lain:
Pare Gajih
Pare ini paling banyak dibudidayakan dan paling disukai. Pare ini biasa disebut
pare putih atau pare mentega. Bentuk buahnya panjang dengan ukuran 30 - 50 cm diameter
3 - 7 cm, berat rata-rata antara 200-500 gram/ buah. Pare ini berasal dari India,
Africa.

Pare Hijau
Pare hijau berbentuk lonjong, kecil dan berwarna hijau dengan bintil-bintil agak
halus. Pare ini banyak sekali macamnya, diantaranya pare ayam, pare kodok, pare alas
atau pare ginggae. Dari berbagai jenis tersebut paling banyak ditanam adalah pare ayam.
Buah pare ayam mempunyai panjang 15 - 20 cm. Sedangkan pare ginggae buahnya kecil
hanya sekitar 5 cm. Rasanya pahit dan daging buahnya tipis. Pare hijau ini mudah sekali
pemeliharaannya, tanpa lanjaran atau para-para tanaman pare hijau ini dapat tumbuh
dengan baik.
Pare Import
Jenis pare ini berasal dari Taiwan. Benih Pare ini merupakan hybrida yang final
stock sehingga jika ditanam tidak dapat menghasilkan bibit baru. Jika dipaksakan juga
akan menghasilkan produksi yang jelek dan menyimpang dari asalnya. Di Indonesia
terdapat tiga varietas yang telah beredar yaitu Known-you green, Known-you no. 2, dan
Moonshine. Perbedaan ketiga jenis pare import ini adalah mengenai permukaan kulit,
kecepatan tumbuh, kekuatan penampilan, bentuk buah, ukuran buah.
J E N I S PARE IMPORT
Ciri-ciri Khas Known-You
Green
Known-You
No. 2
Moon Shine
Kulit Buah Halus, tidak
berbintil,
bergalur lebar
Berbintil-bintil
besar
berbintil-bintil
besar
Warna buah Hijau Putih Susu Putih salju
Bentuk Lonjong
meruncing
Bulat lonjong Bulat Lonjong,
Berat Buah 350 - 650 gram 500 gram 600 - 700 gram
Daging Buah Daging Tebal Daging Tebal Daging Tebal
Pertumbuhan Cepat dan kuat Cepat dan kuat Cepat dan kuat
Pare Belut
Jenis Pare ini memang kurang populer. Bentuknya memanjang seperti belut panjangnya
antara 30 -110 cm dan berdiameter 4-8 cm. Pare belut ini tidak termasuk Momordica sp,
melainkan tergolong jenis Trichosanthus anguina L.
Meskipun demikian orang lebih terbiasa memasukkan pare belut ini masuk kedalam jenis
pare.
II. USAHATANI PARE
A. Syarat Tumbuh
- Pare mempunyai daya adaptasi tumbuh yang cukup tinggi
- Dapat menyesuaikan diri terhadap iklim yang berlainan baik suhu dan curah
hujan yang tinggi
- Dapat hijau sepanjang tahun dan tidak tergantung musim
- Membutuhkan drainase tanah yang cukup baik
- Memerlukan tanah yang gembur dan banyak mengandung bahan organik
Memerlukan PH antara 5 - 6
- Ketinggian antara 1 meter hingga 1500 meter dpl.
B. Pengolahan Tanah
- Tanah yang akan ditanami pare diolah terlebih dahulu dengan membersihkan
dari tanaman lain seperti rumput dan mencangkul tanah agar gembur, minimal
10 hari sebelum tanaman pare ditanam.
- Buat guludan dengan ukuran lebar 150 cm sampai dengan 250 cm, sedangkan
panjangnya dapat mencapai 10 meter atau disesuaikan dengan kondisi lahan
yang ada.
- Antara guludan satu dengan guludan yang lainnya dibuat parit dengan lebar 75
cm dan kedalaman 30 cm.
- Arah pembuatan guludan sebaiknya membujur dari utara ke selatan dengan
maksud agar tanaman mendapat sinar matahari langsung dan penuh untuk
proses fotosintesa.
- Buat lubang tanam dengan panjang 25 cm, lebar 25 cm dan dalam 25 cm
(25x25x25) atau bisa juga dengan ukuran 50 x 50 x 50.
- Jarak antar lubang tanam 75 cm x 75 cm atau 100 cm x 100 cm.
C. Benih/ bibit
Ada dua jenis benih yang dapat dipakai untuk penanaman pare. Jenis pertama
adalah benih/ biji yang langsung ditanam dilapang dan yang kedua adalah benih yang
telah melalui proses persemaian. Pemakaian kedua jenis ini tergantung pada musim
dimana penanaman akan dilakukan. Kalau penanaman dilakukan pada musim penghujan
lebih baik penanaman dilakukan dengan menggunakan benih/ biji langsung, karena daya
tumbuh benih dilapang pada kondisi tersebut dapat baik. Sedangkan apabila penanaman
dilakukan pada musim kemarau sebaiknya penanaman dilakukan dengan menggunakan
benih yang telah disemai terlebih dahulu, karena akan terjamin daya tumbuh benih yang
akan ditanam dilapang.
Benih sebaiknya ditanam berasal dari tanaman yang sehat, kuat dan mempunyai
tingkat produktifitas yang tinggi. Untuk itu disarankan memakai benih yang telah berlabel
yang telah direkomendasikan oleh Balai Pengendalian Mutu dan Sertifikasi Benih.
Jumlah kebutuhan benih dilapang sebaiknya ditambah 10% dari kebutuhan normal.
Misalnya kebutuhan benih untuk 1 Ha dengan jarak tanam 1 x 1 meter lebar guludan 150
cm, panjang guludan 10 meter, maka kebutuhan benih yang direkomendasikan sebanyak
9735 biji. Jadi jumlah benih yang harus disediakan sebanyak 9735 + (10% x 9735) =
10.708 biji atau 2,141 Kg.
D. Penanaman
Penanaman dapat dilakukan melalui dua cara. Cara pertama benih/ biji langsung ditanam
dan cara kedua benih disemaikan terlebih dahulu ditempat terpisah sampai benih
tersebut tumbuh beberapa helai daun, baru di pindah dilapang.
Cara langsung
- Setelah lubang tanam dibuat dengan ukuran 25 x 25 x 25 cm dan telah diberikan
pupuk kandang yang telah matang, masukkan benih/ biji pare kedalam lubang tanam
tadi sedalam kurang lebih 3-4 cm, lalu tutup kembali dengan tanah.
- Pada waktu bersamaan dimasukkannya benih/ biji pare kedalam tanah, masukan pula
furadan kira-kira sejumput (temukan antara ibu jari, jari telunjuk dan jari tengah) untuk
mengambil furadan tersebut.
- Pemberian furadan tersebut dimaksudkan untuk melindungi benih/ biji dari serangan
nematoda dan cacing tanah serta hewan lainnya.
- Penanaman telah disesuaikan dengan jarak tanam yang telah dibuat tadi pada saat
pengolahan tanah yaitu 75 cm x 75 cm atau 1 m x 1 m dalam guludan.
- Untuk menjamin benih/ biji tumbuh dengan baik, lakukan penyiraman disekitar
tanaman. Penyiraman selanjutnya sangat tergantung pada kondisi cuaca. Apabila
banyak terjadi curah hujan maka tanaman sebaiknya tidak perlu disiram. Apabila dalam
keadaan kurang hujan atau bahkan sama sekali kering, tanaman harus disiram dua kali
sehari, yaitu pada pagi dan sore hari.
Cara Tidak Langsung
Cara penanaman tidak langsung ini, benih/ biji disemai terlebih dahulu. Ada 2 cara
persemaian, yaitu memakai kotak persemaian dan menggunakan tanah persemaian
terpisah.
Persemaian dikotak
- Buat kotak persemaian yang terbuat dari papan dengan ukuran panjang 5 meter, lebar
2 meter dan tinggi 15 cm.
- Masukkan tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan 1 : 1. Aduk hingga rata.
- Tanam benih/ biji pare dengan ukuran 2 x 2 cm.
- Sebelum ditanam biji direndam dengan menggunakan atonik 2 cc/ liter selama 10-15
menit.
- Angkat benih pare yang telah tumbuh kira-kira yang telah berumur kurang lebih 10 hari
kedalam polybag kecil atau wadah yang terbuat dari daun pisang.
- Setelah berumur 15 - 20 hari atau bibit pare mempunyai 3 helai daun baru pindahkan
atau bibit siap untuk ditanam dilapang.
Persemaian di Lapang
- Buatkan bedengan dengan ukuran 1,5 meter x 4 meter dan cangkul tanah bedengan
tersebut sedalam 30 cm.
- Campurkan tanah yang ada dalam bedengan tersebut dengan 40-50 Kg pupuk
kandang dan ditambah 0,5 Kg Tsp lalu aduk hingga rata.
- Buat naungan dari rumbia dengan tinggi tiang 1 meter disebelah timur dan 0,75 m
disebelah barat.
- Tanam biji pare seperti yang dilakukan pada persemaian dikotak kayu.
- Selanjutnya perlakukan sama seperti apa yang dilakukan pada persemaian dikotak
kayu.
E. Pemeliharaan
Pemeliharaan tanaman dilakukan untuk mendapatkan hasil yang optimal.
Pemeliharaan tanaman pare dilapang meliputi penyiangan, penyulaman, pembumbunan,
pemangkasan, pembungkusan, pembebanan, pembuatan turus dan para-para.
Penyiangan
Penyiangan dilakukan untuk membersihkan semua jenis tanaman yang tumbuh
selain tanaman pare. Tanaman jenis lain dapat berupa rumput-rumputan, gulma, dan
tanaman lainnya. Pembersihan ini dilakukan disekitar batang/ akar tanaman atau diantara
parit-parit yang ada dengan menggunakan tangan (dicabut), kored atau cangkul.
Penyiangan tanaman dilakukan untuk mengurangi atau menghindari persaingan
antara tanaman pare yang ditanam dengan jenis tanaman lain yang mungkin tumbuh
disekitar tanaman pare dalam penyerapan unsur-unsur hara, air dan matahari. Disamping
itu penyiangan dilakukan untuk menghindari kemungkinan tumbuhnya hama dan penyakit
yang mungkin timbul dari tanaman yang tumbuh selain tanaman pare.
Pembumbunan
Pembumbunan dilakukan untuk menaikkan tanah yang ada disekitar tanaman pare
agar akar tanaman dapat tertutup. Pembumbunan dilakukan setelah penyiangan dilakukan
dengan maksud untuk memperbaiki aerasi tanah sekitar akar yang menjadi padat akibat
siraman air hujan atau air siraman tanaman.
Penyulaman
Oleh karena pada waktu penanaman ada benih yang tidak tumbuh yang
diakibatkan oleh beberapa faktor seperti kualitas benih, daya tumbuh benih, kondisi tanah,
atau serangan hama, maka tanaman yang tidak tumbuh tersebut perlu diganti dengan
tanaman lain yang sehat dan kuat (disulam).
Penyulaman dilakukan sebaiknya pada waktu bibit tanaman berumur 7 - 10 hari setelah
tanam.
Pemangkasan
Pemangkasan tanaman pare dilakukan untuk mengontrol pertumbuhan batang
utama. Tinggi ideal batang utama tanaman pare adalah 2 - 3 meter. Jika panjangnya
melebih dari itu, tanaman tidak produktif lagi oleh karena itu tanaman perlu dipangkas.
Tunas yang akan tumbuh dari hasil pemangkasan tersebut dialihkan kesamping melalui
para-para. Sebagai awal perambatan tunas yang tumbuh tersebut dapat digunakan tali.
Pembungkusan
Untuk menghasilkan buah pare yang mulus dan permukaan kulit tidak bolong, maka
sebaiknya dilakukan pencegahan melalui pembungkusan buah pare. Tindakan
pembungkusan buah pare ini dimaksudkan adalah untuk mencegah serangan lalat buah
yang menyerang buah pare pada waktu usia muda. Bahan pembungkus dapat digunakan
kertas atau daun pisang yang telah kering (klaras). Waktu ideal dilakukannya
pembungkusan adalah pada waktu tanaman telah menghasilkan buah pare dengan
ukuran batang korek api, atau kurang lebih berumur kira-kira 1,5 bulan.
F. Pemupukan
Salah satu bagian dari pemeliharaan tanaman pare adalah pemupukan.
Pemupukan dilakukan untuk mendapatkan tanaman sehat, kuat dan dapat berproduksi
sesuai dengan potensi yang ada dalam tanaman tersebut. Pemupukan dasar dilakukan
pada 1 - 2 minggu sebelum tanaman pare ditanam, atau dilakukan pada saat pengolahan
tanah atau pada waktu pembuatan lubang tanam. Beberapa petani sayuran di Jakarta
Timur, pemberian pupuk dasar dilakukan dengan cara membenamkan sebanyak 2 - 3 kg
pupuk kandang yang sudah matang kedalam lubang tanam dan biasanya ditambah 15 -
20 gram pupuk NPK perlubang tanam.
Pemupukan susulan pertama dilakukan setelah tanaman telah berumur 3 minggu.
Dosis pemupukan diberikan sangat tergantung pada jenis tanah dan iklim setempat
dimana tanaman pare ditanam. Untuk jenis tanah yang berpasir kombinasi pupuk urea,
TSP, dan KCI yang diberikan sebaiknya dengan perbandingan 1 : 2 : 2, sedangkan untuk
jenis tanah liat sebaiknya diberikan pupuk dengan kombinasi urea, TSP, dan KCl
sebanyak 1 : 2 : 1. Pengalaman dari petani Bambu Apus, Jakarta Timur kombinasi urea,
TSP dan KCl diberikan sebanyak 2 : 2 : 8. Setiap tanaman diberikan sebanyak 10 - 15
gram/pertanaman. Jadi apabila diberikan 10 gram pertanaman maka banyaknya urea,
TSP dan KCl yang diberikan pada perbandingan 1 : 2 : 2 adalah urea sebanyak 20 Gram,
TSP 40 dan KCl 40 gram. Demikian halnya dengan kombinasi 1: 2 : 1, Urea diberikan 2,5
gram, TSP 5 gram dan KCl 2,5 gram.
Pupuk susulan kedua diberikan 2 minggu setelah pemupukan susulan pertama
dilakukan. Banyaknya pupuk yang diberikan 0,5 dari dosis yang diberikan pada
pemupukan susulan Pertama. Dapat juga diberikan tambahan pupuk seperti NPK. NPK
diberikan 2 minggu setelah pemupukan susulan pertama dilakukan dan dilanjutkan
dengan interval dua minggu sampai tanaman pare berumur empat bulan. Dosis NPK yang
diberikan sebanyak 5 gram pertanaman.
Penempatan pupuk yang diberikan kepada tanaman pare adalah ber-jarak antara
10 - 15 cm dari akar dan kedalaman 3-5 cm.
G. Pembuatan Turus dan Para-para
Tanaman pare merupakan tanaman yang merambat dan menjalar, oleh karena itu
diperlukan suatu tempat dimana nantinya buah pare tersebut dapat bergantung dengan
baik, sehingga pertumbuhan buah pare dapat maksimal.
Turus dibuat untuk memanjat batang utama pare, sedangkan para-para digunakan
untuk menjalarnya tunas-tunas dari batang utama yang nantinya akan menghasilkan buah
pare. Tinggi turus dan para-para berkisar 1,5 sampai 2 meter. Hal ini dengan
mempertimbangkan agar mudah dalam pemeliharaan tanaman terutama pada waktu
panen dan mudah dalam melakukan penyiangan dan pembumbunan serta mudah dalam
mengontrol tanaman dari gangguan hama dan penyakit tanaman.
Berbagai macam cara dan bentuk pembuatan turus dan para-para. Bahan yang
dipakai sebaiknya bambu dengan ukuran sedang. Sebagai penghubung antara tanaman
satu dengan yang lainnya diberikan tali.
H. Pengendalian Hama dan Penyakit Pare
Salah satu syarat agar tanaman pare dapat tumbuh dan berkembang sehingga
menghasilkan buah adalah tanaman pare harus sehat. Agar sehat tanaman harus
terbebas dari gangguan hama dan penyakit tanaman. Yang dimakasud dengan hama
adalah semua jenis hewan yang dapat mengganggu tanaman sehingga merugikan bagi
tanaman tersebut. Sedangkan penyakit tanaman adalah semua jenis gangguan pada
tanaman yang disebabkan oleh jamur, bakteri, virus dan kekurangan unsur hara dalam
tanaman.
Pengendalian hama dan penyakit tanaman harus didasarkan pada prinsip ambang
ekonomi, artinya pengendalian hama dan penyakit baru dapat dilakukan secara intensif
apabila dari segi ekonomi serangan hama dan penyakit mengakibatkan kerugian yang
cukup besar. Disamping itu dalam mengendalian hama dan penyakit prioritas pengendalian
dengan cara memperbaiki kondisi lingkungan setempat, sedangkan aplikasi
pestisida dilakukan pada urutan terakhir.
Hama dan penyakit yang menyerang Tanaman pare sebenarnya tidak terlalu
banyak, namun demikian ada beberapa hama dan penyakit yang menyerang tanaman
pare dan sejenisnya yang perlu kita ketahui, baik dari segi gejala serangan maupun dalam
pengendaliannya. Hama yang menyerang tanaman pare antara lain:
Ulat Grayak
Ulat ini menyerang pada malam hari, sedangkan pada siang hari ulat ini
bersembunyi didalam tanah. Daun pare merupakan bagian tanaman yang diserang.
Dalam kondisi serangan berat semua daun pare habis dimakannya, karena sifat hama ini
adalah hampir semua jenis daun tanaman diserangnya.
Pemberantasan hama ini dapat dilakukan secara mekanis yaitu telur-telur yang
baru menetas diambil bersama-sama dengan daun yang menempel. Pengambilan telurtelur
ini jangan sampai terlambat sebab kalau terlambat ulat menjadi besar dan
bersembunyi didalam tanah. Pemberantasan hama ini dapat juga dilakukan secara
biologis yaitu dengan menyemprotkan Bacillus thungiriensis atau Borelinevirus litura.
Secara kimia disemprot dengan pestisida azodrin 2 cc/ liter.
Lembing (Epilachma sparsa)
Daun pare yang terserang hanya tersisa tulang daun. Daun menjadi kering dan
kecoklat-coklatan, akhirnya produksi buah menjadi turun. Hama ini berbentuk lembing
bulat, warnanya merah dengan bercak hitam sebanyak 12 - 26 buah. Beberapa cara
pengendaliannya adalah
a. telur, larva dan lembing dapat ditangkap dengan tangan lalu dimatikan
b. diberantas dengan musuh alaminya, yaitu jenis tabuhan yang menjadi parasit telur,
larva dan pupa.
c. Dilakukan rotasi tanaman
d. Disemprot dengan insektisida seperti carbaryl, carbophenation, dll.
Kumbang Aulacophora silimis
Gejala serangan yaitu tanaman menjadi layu karena jaringan akarnya dimakan
larva dan daunnya dimakan kumbang. Pengendalian dilakukan dengan menyemprotkan
insektisida Curacon 500 EC. Pengendalian mekanis dapat dilakukan dengan gropyokan.
Kepik Leptoglossus australis
Gejala serangan kualitas buah menurun, bekas serangan hama sering ditumbuhi
cendawan Nematospora, akhirnya buah menjadi busuk. Pengendaliannya dengan
menyemprotkan racun kontak seperti azodrin dengan dosis 2 cc/liter. Penyemprotan
dilakukan setelah ada gejala serangan kepik ini.
Lalat Buah (Dacus cucurbitae Cog)
Gejala serangan adalah daging buah tidak dapat dimakan karena busuk dan berair
dengan ratusan belatung. Tampak luar daging buah sehat tapi setelah di buka terlihat
daging buah penuh dengan belatung. Pengendalian lalat buah ini adalah :
a. dengan membungkus tanaman pare pada waktu buah berukuran batang korek api
dengan menggunakan kertas atau daun pisang yang telah kering (klaras).
b. dengan menggunakan insect trap yang ditaruh disekitar tanaman pare, sehingga
lalat buah yang ada disekitar dapat ditangkap dan mati dalam tangkapan tersebut.
c. dengan mengadakan penyiangan dan pembubunan serta memelihara kebersihan
sekitar tanaman dari gulma dan sisa tanaman yang membusuk, sebab kondisi
seperti itu sesuai dengan tumbuh dan berkembang-nya lalat buah.
Siput ( Pamarion pupillaris Humb)
Gejala serangan yaitu tanaman terutama dipersemaian terkoyak, lalu mati.
Pengendaliannya adalah siput ditangkap lalu dicacah dagingnya untuk makanan ayam.
Dapat pula diberantas dengan racun kontak yang dicampur dengan dedak. Racun kontak
tersebut adalah Mesurol dengan bahan kimia methiocarb dengan dosis 2 gram/1 liter air.
Penyakit yang sering menyerang tanaman pare antara lain :
Penyakit Embun Tepung
Gejala awal ditandai dengan adanya tepung putih pada daun terbawah. Daun yang
terserang menjadi kuning, coklat dan akhirnya mengering. Batang pun diserang tepung ini.
Batang seperti dilapisi tepung. Tanaman akan lemah dan mati atau buahnya tidak normal.
Penyebab gejala ini adalah cendawan Oidium sp.
Pengendalian penyakit ini dilakukan dengan beberapa cara antara lain:
a. Mengurangi kelembaban disekitar tanaman dengan cara pengaturan jarak tanam
dan drainase yang baik
b. Membuang bagian tanaman yang terserang
c. Menanam varietas yang resisten
d. Disemprot dengan fungisida sulfur dosis 2 g/liter sebagai penyembuhan dan
pencegahan
Penyakit Antraktosa
Gejala penyakit ini daun bernoda hitam. Pada serangan berat batang dan buah juga
terserang. Serangan lebih berat terjadi pada musim hujan. Gejala penyakit ini disebabkan
oleh cendawan collectrichum sp. Pengendaliannya adalah dengan memusnahkan
tanaman yang terserang, pergiliran tanaman, dan penyemprotan dengan fungisida Benlate
dengan dosis 2 gram/ liter.
Penyakit Layu
Gejala layu tampak pada ujung daun, kemudian seluruh daun akan mengkerut lalu
mengering. Tanaman akan mati sejak beberapa saat terinfeksi. Menyerang tanaman bibit
yang baru kecambah, tanaman muda dan tanaman yang telah dewasa. Penyebab
penyakit ini disebabkan oleh Fusarium sp.
Pengendalian dilakukan dengan memusnahkan tanaman yang terserang, menyiram
larutan fungisida Benlate 2 gram/ liter ke tanah bekas tanaman yang terkena penyakit dan
menggunakan benih yang tahan terhadap serangan patogen.
Penyakit Virus
Gejala serangan jelas pada daun-daun muda. Serangan virus ini menyerang pada
saat tumbuh (bibit, tanaman muda atau tanaman yang telah menghasilkan buah).
Penyebab gejala tersebut adalah Cucumber mosaic virus (CMV).
Pengendaliannya dilakukan dengan cara memusnahkan tanaman yang terserang,
memberantas vektor virus (serangga), menyeleksi bibit yang akan di pindah ke lapang dan
pemupukan yang seimbang.
I. Panen
Pemetikan buah pare sangat tergantung pada pemanfaatan buah pare tersebut.
Apabila pare yang akan dipanen digunakan untuk konsumsi maka sebaiknya pilih pare
yang bintil-bintil dan keriputnya masih agak rapat dengan galur-galur yang belum melebar.
Panjangnya antara 25-30 cm dan diameternya 3-5 cm. Apabila pare yang dipetik
digunakan untuk benih maka pilih pare yang besar, sehat dan matang sempurna.
Tanaman pare yang telah berumur 1,5 bulan biasanya telah berbunga dan
diharapkan 1 bulan kemudian buah pertama dapat dipetik. Untuk panen kedua, ketiga dan
seterusnya dengan interval 6 - 7 hari. Kalau keadaan tanaman subur maka tanaman pare
dapat di panen selama 4 bulan.
Cara pemanenan harus diperhatikan dengan baik karena hal ini menentukan
kualitas tanaman pare yang akan dipasarkan. Pemetikan sebaiknya dilakukan dengan
menggunakan alat potong yang tajam. Hindari dengan cara menarik atau memilin tangkai
pare, karena dapat menyebabkan memar pada tangkai yang pada akhirnya akan menarik
cendawan atau penyakit lain kedalam bagian tangkai yang memar tadi. Hasil pemetikan
ditaruh keranjang atau tempat yang bersih dan disusun dengan berselang-seling dan
sejajar.
J. Pasca Panen
Setelah dipetik sebaiknya pare sudah mulai ditaruh pada suatu wadah. Untuk
keperluan pasar tradisional sebaiknya digunakan karung-karung yang bersih. Pare disusun
berdiri dalam karung, hal ini menghindari pare tertimbun dengan beban berat
diatasnya. Pada waktu mengangkat atau menaruh jangan sampai dilempar untuk
menghindari memar pada tanaman pare.
Untuk memenuhi konsumsi pasar supermarket sebaiknya dikemas dengan
menggunakan plastik tipis dan tembus pandang. Sebelum dikemas dengan plastik
sebaiknya pare dibersihkan dari kotoran yang menempel pada pare, sehingga diharapkan
penampilannya baik bersih dan rapi.
K. Analisa Ekonomi
1. Biaya Tetap
- Sewa tanah : 3.000 m 2 Rp. 25.000,-
Biaya Pembuatan Para-para (dapat 3 kali)
- Bambu 500 bt @ Rp. 750,- Rp. 375.000,-
- Bambu untuk Para 2.250 bt @ 400,- Rp. 900.000,-
- Tali 10 Kg @ 2.500 Rp. 25.000,-
Jumlah Rp. 1.300.000
Biaya pembuatan para-para dalam 1 kali pemakaian
1.300.000,- : 5 = Rp. 260.000,
Total biaya tetap : 25.000 + 260.000 = Rp. 285.000,
2. Biaya Variabel
- Benih 1.500 butir @.Rp. 25 Rp. 37.500
- Pengolahan Tanah Rp. 200.000
- Pupuk Kandang Rp. 75.000
- Pupuk Urea Rp. 24.000
TSP Rp. 6.000
KCI Rp. 6.000
- Obat - obatan
Sevin Rp. 10.000
Basudin Rp. 15.000
Jumlah Rp. 373.500
3. Biaya Total Rp. 285.000 + Rp. 373.500 Rp. 658.500,-
4. Tingkat produktifitas paria di Jakarta Timur 7 kw/ha atau sama dengan 0,7 / m2.
5. Luas pengusahaan 3.000 m2
6. Harga rata-rata pare 500 per Kg
7. Pendapatan = 0,7 x 3000 x 500,- = Rp. 1.050.000,-
8. Keuntungan bersih 1.050.000 - 658.500 = Rp. 391.300
READMORE - Budidaya Pare / Paria

Rabu, 05 Januari 2011

Selasa, 04 Januari 2011

Tidak Ada Inspirasi

?????Postingan Kosong?????
hehehe tidak tuchhhhhh
READMORE - Tidak Ada Inspirasi

Minggu, 02 Januari 2011

Teknik Relaksasi Atasi Kepanikan


Langkah-langkah ini juga bisa membuat Anda rileks:

1. Duduk atau berbaring dalam posisi nyaman dan pejamkan mata. Biarkan rahang terbuka, kelopak mata rileks dan berat, tetapi tidak tertutup rapat.

2. Pindai tubuh Anda secara mental. Mulai dari jempol kaki dan pelan-pelan naik ke betis, paha, pantat, tubuh, lengan, tangan, jemari, leher, dan kepala. Fokus ke setiap bagian dan cari bagian yang mengalami ketegangan. Imajinasikan bahwa ketegangan itu meleleh.

3. Kencangkan otot-otot di satu daerah tubuh Anda. Kencangkan otot tangan dalam 5 hitungan dan rilekskan. Pindah ke otot lain seperti bahu, muka, lengan, kaki, dan pantat. Ini cara yang baik untuk melepaskan ketegangan.

4. Biarkan semua pikiran berkelebat, tetapi jangan fokus. Sugestikan ke diri sendiri bahwa Anda rileks dan tenang. Bahwa tangan Anda hangat, jantung berdebar normal, dan Anda merasa damai.

5. Napas perlahan, teratur, dan dalam. Sekali rileks, bayangkan Anda berada di tempat favorit yang indah dan tenang. Setelah 5-10 menit, kembalilah ke keadaan semula secara perlahan

Smoga berguna dech buat yang sering mengalami panik... :)
(sumber: http://id.news.yahoo.com)
READMORE - Teknik Relaksasi Atasi Kepanikan

Sabtu, 01 Januari 2011

 
Powered by Blogger